masukkan script iklan disini
MNi. Nilai sejarah dan keragaman budaya kearifan local sangat dijaga dan dijunjung
tinggi oleh masyarakat adat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
(NTT). Seperti halnya salah satu situs sejarah yang diketahui bernama Painghaka
merupakan sebuah kerangka manusia sejak jaman batu yang terkubur di pasir pantai
Painghaka tepatnya di Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores
Timur. Tengkorak manusia jaman batu itu diperkirakan sudah berusia 4000 tahun.
Bagi masyarakat kampung Riangpuho, Desa Waibao, sangat menjaga situs
sejarah kerangka manusia jaman batu berusia 4000 tahun itu. Selain memiliki dan
menyimpan berbagai sejarah nenek moyangnya sejak jaman batu, Painghaka juga
memiliki obyek wisata keindahan alam pantainya dengan hamparan pasir putih yang
mempesona. Di pantai Painghaka itulah terdapat situs tengkorak manusia dan
sebuah situs lagi bernama Nopin Jaga.
Menurut keterangan dua tokoh adat Desa Waibao, Anton Tuan Nitit dan
Bartolomeus Ole Belen sekaligus penjaga kedua situs sejarah itu, kerangka
manusia yang terkubur dalam pasir Painghaka adalah manusia sejak saman batu. Hal
ini dikuatkan dengan beberapa bukti literature sejarah berupa periuk tanah, gelang
tangan dari kerangka, dan kapak batu. Konon, periuk sejarah itu kini tersimpan
di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur. Selain sebagai obyek
wisata, keberadaan dua situs sejarah itu membuat banyak ahli arkeolog yang
berasal dari Perancis, Australia, Selandia Baru, dan juga beberapa universitas terkenal
lainnya di Indonesia sudah mulai melakukan penelitian sejak tahun 2010 lalu./ BS
MNI. The historical value of local knowledge and cultural
diversity are very guarded and upheld by indigenous peoples in East Flores,
East Nusa Tenggara (NTT). As well as one of the historical sites were
identified as Painghaka a frame since the days of rock buried in the sand
beach, in the village Painghaka Waibao, District of Tanjung Bunga, East Flores
Regency. The human skull is estimated the stone age of 4000 years old.
For the people of the village Riangpuho, Waibao village, is
maintaining the historical sites of human skeleton stone age of 4000 years old.
In addition to owning and storing the history of his ancestors since the stone
age, Painghaka also has a tourism natural beauty with white sand beaches are
dazzling. On the beach there is a site that Painghaka human skulls and a site
again named nopin Jaga.
According to two traditional leaders Waibao village, Mr.
Anton Bartholomew Ole Belen Nitit and guards at the same time both the
historical sites, human remains buried in sand Painghaka are humans since saman
stone. This is confirmed by some evidence in the form of historical literature
perik ground, bracelets from the frame, and stone axes. That said, the history
of the pot is kept at the Department of Education and Culture of East Flores
Regency. Aside from being a tourist attraction, where two historical sites that
make a lot archaeologist from France, Australia, New Zealand, and also some
other famous universities in Indonesia have started doing research since 2010
lalu./ BS